HABIB PRASTYO

Nonformal & Informal Education
Urban Community Development Program
Evaluation Program

SELAMAT DATANG

     PENDIDIKAN adalah Kunci Utama Kemajuan Bangsa. Dengan kata lain, maju mundurnya suatu bangsa adalah tergantung maju mundur pendidikannya.

    Seiring dengan semakin cepatnya perkembangan dunia pendidikan khususnya pendidikan nonformal dan informal dalam memasuki abad ke-duapuluh satu, semakin tampak jelas pula betapa masyarakat umum telah menekan pihak pemerintah dan instansi pendidikan untuk meningkatkan kemampuan kapabilitas sumber daya manusia dalam menyongsong masa depan yang lebih baik.

    Jangan lupa salah satu determinan peningkatan mutu pendidikan didalamnya adalah guru2/para tutor/pamong belajar kita. Mari sekarang kita benahi bersama seusai dengan PP 17/2010 tentang pengelolaan dan penyelenggaraan pendidikan di indonesia. Untuk itulah dalam rangka penjaminan mutu pendidikan pemerintah pusat dan daerah harus segera merealisasikan akreditasi dan sertifikasi, baik : akreditasi program pendidikan, satuan pendidikan , sertifikasi pendidik dan tenaga kependidikan , dan dalam hal ini pemerintah pusat dan daerah jangan terlau lama2 segeralah keluarkan/terbitkan permendiknas atau payung hukum lainnya atau pergub yg dapat mengakomodir percepatan penjaminan mutu perdidikan di indonesia ,jika tidak......kualat selamanya (kita tahu pepatah jadul "guru kecing berdiri murid akan kecing berlari apakah ini ada kaitannya semuanya...) 

Situs ini mengajak kepada siapa saja untuk bertukar  Ide, Gagasan, Pengalaman, Saran atau Kritik yg Konstruktif demi kemajuan Pendidikan serta masa depan Generasi Bangsa. 

semoga melalui situs saya ini, menjadi bahan masukan dalam mengkaji pendidikan masyarakat yang berkesinambungan dan tepat sasaran. selamat menikmati.

Ketegasan Menyatakan Pendidikan Luar Sekolah Adalah.....

Pendidikan Luar Sekolah(PLS) merupakan salah satu jalur pendidikan yang ada di Indonesia yang muncul sekitan tahun 70-an seperti runtutan sejarah perkembangannya sebagai berikut:

  a. PENDIDIKAN MASYARAKAT 1950-an

  b. PENGEMBANGAN MASYARAKAT & PENDIDIKAN SOSIAL 1960-an

  c. PENDIDIKAN LUAR SEKOLAH 1970-an

  d. PENDIDIKAN NON-FORMAL DAN INFORMAL 1980-an

  e. PENDIDIKAN ANAK USIA DINI 2000-an

sehingga menurut perkembangannya PLS seringkali berubah nomenklatur dalam sistem birokrasi pemerintahan mulai Pendidikan Nonformal dan Informal (PNFI) hingga sekarang menjadi Pendidikan Anak Usia Dini Nonformal dan Informal (PAUDNI) dengan alasan pengerucutan dan perumusan dalam membatasi garapan-garapan program PLS, namun seringkali dalam dunia akademis menjadi sebuah momok dalam tindak aksi diperkuliahan terutama mahasiswa PLS yang selalu mendambakan pertanyaan sesungguhnya PLS itu apa sih? dengan kebuntuan dasar pemikiran dan pijakan kebijakan jurusan pendidikan luar sekolah yang tidak tercantum dalam kekuatan hukumnya pada Undang-undang Sisdiknas no. 20 tahun 2003.

Pada prinsipnya setiap akademisi harus mampu menyatakan pendapatnya pengertian dari PLS itu apa, tanpa harus memiliki keraguan dan benak-benak pertanyaan yang akan terjadi bila menjawab ini takut salah, cemas, galau ataupun melmpar kesana-kemari.. PLS itu hanya butuh ketegasan baik pemerintah , akademisi maupun praktisi yang bergerak di bidang PLS baik dari lembaga manapun sehingga tidak mencacatkan pemikiran dangkal pengertian PLS yang dicari sendiri pengertiannya bagi mahasiswa baru jurusan PLS dan tentunya masyarakat menjadi tidak kebingungan menanggapi luasnya garapan PLS.. 

Pada prinsipnya apapun nama lain dari Pendidikan Luar Sekolah atau PNFI atau PAUDNI adalah melakukan "Empowering Comunity" atau memberdayakan masyarakat guna membantu masyarakat dalam memenuhi kebutuhan hidupnya melalui program2 di luar persekolahan dengan konsep pembelajaran Orang Dewasa "Andragogy". yang tentunya konsepsi pemikiran kita berbeda dengan luasnya pendidikan luar sekolah sehingga ketegasan dalam memberikan jawaban PLS itu apa menjadi salah satu eksistensiPLS ke seluruh masyarakat khusunya di Indonesia -habib prastyo-

BEKERJA MELAWAN BATIN.

Setiap kali dalam bekerja, terutama di instansi pemerintah. mental bekerja sangat dipertaruhkan terutama loyalitas terhadap lembaga, namun kadang kala sering menemukan hal yang bertentangan dengan batin dan ideologi yang didapat di dunia kampus dahulu. berdosakah bila bekerja melawan batin yang sampai saat ini masih terganjal dengan bobroknya substansi dan sistem pemerintahan yang saat ini menggembar gemborkan reformasi birokrasi yang nyatanya sampai saat ini sistem menjadikan pemikiran ideologis dan prinsipil para calon pegawai negeri sipil yang baru memasuki sistem dijasikan ajang bagaimana memakmurkan diri pribadi tanpa ditekankan etos dan sikap kerja profesional oleh beberapa oknum tidak bertanggung jawab... penolakan demi penolakan kadang terlintas dalam benak pikiran mendalam menyusuri pekerjaan yang dijadikan beban kerja maupun pikiran keseharian dalam sistem... mungkinkah ada perubahan mendasar pada sistem terutama moral pemimpin dan kebijakan pemegang kekuasaan di Negeri tercinta ini? jawabannya ada pada diri anda selaku pekerja yang membatin dalam sistem. -Habib Prastyo-

PELATIHAN: PENTING ATAU TIDAK PENTING !!

Sebuah organisasi ataupun perusahaan senantiasa mengalami perubahan sesuai dengan perubahan zaman. Perkembangan ilmu dan teknologi mengharuskan kita selalu aktif untuk membuka mata dan telinga terhadap perubahan yang terjadi. Peralihan zaman dari Information Age menjadi Conceptual Age semakin dekat. Penyelenggaraan pelatihan menjadi salah satu jawaban bagi perusahaan untuk men’charge’kan kembali kinerja karyawan. Mulai dari pelatihan yang berupa teknis hingga pelatihan yang mengedepankan perubahan attitude kerap kali menjadi pilihan perusahaan dalam memenuhi kebutuhan Sejauh mana pelatihan tersebut dianggap penting atau tidak penting dalam sebuah organisasi/perusahaan, perlu dilakukan atau tidak? Berikut ini dijabarkan beberapa pendapat dari berbagai sumber.

Mengapa pelatihan?
Menurut Ary Ginanjar A, dalam buku Rahasia Sukses Membangun Kecerdasan Emosi dan Spiritual ESQ menyebutkan bahwa Globalisasi adalah bukti nyata akan kebutuhan manusaia untuk berinteraksi dan bersinergi dengan kelompok lain di luar kelompoknya. Tidak diragukan bahwa pikiran kelompok dan sinergi akan menghasilkan sebuah pemikiran yang jauh lebih cerdas dan lebih sempurna. Peningkatan kecepatan informasi, ilmu pengetahuan, juga jaringan kerja, membuat kita semakin bergantung pada pemikiran kelompok-kelompok lain dibandingkan dengan masa-masa sebelumnya. Oleh sebab itu, dibutuhkan pelatihan ketangguhan social (social strength) dalam menghadapi perubahan yang ada.
Hal senada juga disampaikan dalam buku Prof Yusufhadi Miarso, Menyemai Benih Teknologi Pendidikanyang mengatakan bahwa perubahan lingkungan, tentu saja tidak dapat diatasi dengan cara lama, termasuk pengetahuan, teknologi, dan manajeman, serta kepemimpinan. Menghadapi perubahan dan masalah baru tersebut maka setiap organisasi yang ingin bertahan hidup dan ingin berkembang, harus dapat menyesuaikan diri dengan menggunakan cara-cara atau pendekatan baru.

Dalam buku Ary Ginanjar A, juga ditemukan hasil dari sebuah penelitian yang dilakukan Robert Kelley, dari Carnagie Mellon University di Carnagie Mellon University yang menunjukkan bahwa presentase kebutuhan pengetahuan dalam mengerjakan tugas dari dalam benak sendiri adalah sekitar 75% ditahun 1986 dan terjadi penurunan sekitar 15-20 % pada tahun 1997. Dari penelitian ini dapat ditarik kesimpulan bahwa keberhasilan seorang pekerja/karyawan bukan berdasarkan pengetahuannya saja, tetapi ada aspek lain di luar itu yang lebih penting yaitu EQ dan SQ.

Oleh sebab itu pelatihan merupakan salah satu jawaban dalam menjawab tantangan perubahan zaman tersebut. Teori dan praktek yang selama ini diterima oleh pekerja/ anggota organisasi sebelum ia menjalani pekerjaannya dimasa sekarang bisa jadi sudah usang. Ataupun praktik pekerjaan atau kinerja yang ia lakukan sekarang ini bisa jadi cuma pengulangan dari pola rutinitas yang ia lakukan selama ini. Bangku pendidikan formal yang telah dienyam oleh para pekerja sebelum ia memasuki real world bukan merupakan garansi, bahwa ia akan menjadi kompeten sesuai bidangnya. Seperti yang dikemukakan bapak Ary G.A, kebiasaan menghafal teori selama ini sering dilakukan dengan hanya menggunakan kepala bukan dengan hati. Akibatnya hanya ingat dalam kurun waktu tertentu. Tanpa dipraktikkan, teori terbuang percuma. Setelah diingatkan kembali barulah menyesal.

Lantas seperti apakah pelatihan yang seharusnya ada?
Dalam buku Meningkatkan produktivitas karyawan, Seri Manajemen No.95: yang disunting oleh Bambang Kussriyanto, Keberhasilan pelatihan tergantung pada 3 hal:
* Jalinan rencana keseluruhan yang serasi
* Teknik khusus yang digunakan
* Jangka waktu penyelenggaraan yang tepat
Dalam buku itu juga dikemukakan bahwa idealnya pelatihan dilaksanakan begitu penyelia baru diangkat, hal ini merujuk pada asumsi bahwa selagi mereka masih penuh semangat dan gembira serta sebelum mereka dijangkiti kekhawatiran bahwa mereka tidak mampu melakukan tugas, sehingga lambat laun akan membentuk rasa rendah diri. Akan tetapi kenyataannya seringkali penyelia bekerja terlebih dahulu beberapa waktu, dan baru diberi pelatihan manakala kesulitan dalam bidang tertentu.
Selain itu pelatihan harus dimaksudkan untuk membina bakat-bakat baik disamping untuk mengobati kekurangan. Baik segi-segi yang merupakan kekuatan maupun segi-segi yang merupakan kelemahan harus diperhatikan dan diolah secara seimbang dalam program pelatihan yang diselenggarakan.

Pelatihan kognitif vs pelatihan attitude
Semenjak para pemimpin perusahaan menyadari pentingnya sebuah mentalitas dan attitude, mereka kemudian mengirimkan pada manajernya serta staffnya untuk mengikuti training dengan harapan agar terjadi suatu perubahan mental pada karyawannya. Meski terkadang hasilnya memang terlihat cuma beberapa saat. Pemikiran tentang pealtihan yang berdasarkan pada nilai kognitif semata telah beranjak menjadi pelatihan mental.
Orientasi bisnis seharusnya menggunakan pondasi pada optimalisasi spiritual capital bukan material capital. Yang dibenarkan oleh ahli psikologi, Victor Frankl, yang mengetakan bahwa mereka yang mampu mamaknai setiap aktivitasnya, memiliki kekuatan unutk bertahan hidup di dunia fana ini. Lebih lanjut Kouzes, dan Postner (Leadership Challenge, 2002) mengatakan bahwa sumber komitmen yang tinggi bukanlah pada kokohnyacore values perusahaan, tetapi lebih kepada personel values (nilai-nilai pribadi karyawan) yang kokoh. Karena nilai pribadi itu yang tercermin dalam praktik bekerja dan komitmen bekerja bukan nilai perusahaan. Nilai individu yang dianut memgang kendali utama. (Agustian, Ary Ginanjar. Rahasia Sukses Membangun Kecerdasan Emosi dan Spiritual ESQ)
Oleh sebab itu tidaklah pelatihan karyawan sebuah perusahaan cukup dengan pelatihan kognitif saja, tetapi juga aspek SQ dan EQ-nya yang mengacu pada perubahan mental dan attitude karyawan..

Pelatihan yang berkontinu (terus-menerus)
Peter Drucker menunjukkan bahwa justru dengan pelatihan yang terus-meneruslah orang Jepang membuat pekerja makin besar rasa tanggung jawabnya terhadap pekerjaannya dan alat-alat yang digunakan. Pelatihan membuat pekerja mengerti akan prestasinya, prestasi bawahannya, prestasi teman sejawatnya, prestasi perusahaannya, dan berusaha untuk meningkatkan prestasi2 itu. Pelatihan menciptakan komunitas kerja dan pekerja. (Kussriyanto, Bambang. Seri Manajemen No.95: Meningkatkan produktivitas karyawan)
Terlalu sering dampak nyata sebuah pelatihan, apapun jenisnya adalah mereka hanya mendapat energi baru. Manfaat training memang sangat dirasakan seperti: memahami arti penting berpikir positif, proaktif, orientasi pada tujuan, empati, komitmen, atau sinergi. Akan tetapi setelah 3 bulan, biasanya peserta sudah lupa untuk mempraktikkan konsep pada buku tersebut. Yang tersisa tinggallah slogan-slogan seperti: you can if you think you can, think globally act locally, there is a way there is a will, dst, Sesudah itu para peserta pelatihan kembali pada kebiasaan lama mereka sebelum pelatihan. (Agustian, Ary Ginanjar. Rahasia Sukses Membangun Kecerdasan Emosi dan Spiritual ESQ),

Karenanya kontinuitas dalam pelatihan sangat menentukan hasil akhir peningkatan performance para pekerja, sebab selayakanya sifat dasar manusia pada umumnya yaitu cepat lupa.

Dampak pelatihan
Dampak yang paling umum dari sebuah sebuah pelatihan adalah meningkatnya rasa percaya diri peserta, setidaknya untuk sementara waktu. (Ginanjar, Ary. Rahasia Sukses Membangun Kecerdasan Emosi dan Spiritual ESQ, mengutip dari Richard Boyatzis, Consequences of Rejuvenation as Competency-Based Human Resources and Organisation Development, Research in Organizational Change and Development IX, 1993)
Sebuah training yang diikuti pesertanya dengan dilandasi kesadaran dirinya yang kuat, yang sesuai dengan suara hatinya maka ia akan menjadi jawaban dari metode pembentukan karakter (mental building). Selain itu terus berkelanjutan dan bisa dilaksanakan sepanjang waktu, sehingga meghasilkan peningkatan ESQ secara berkesinambungan dan berkelanjutan seumur hidup. Selain itu hendaknya sebuah training mengahsilkaninternalisasi karakter, yang tentu saja harus dilakukan secara kontinu. Bila tidak secara kontinu, manfaat training yang begitu hebat terasa singkat

Kesimpulan
Pelatihan dalam sebuah organisasi/perusahaan sangatlah penting sejalan dengan budaya organisasi, pembentukan mental karyawan dan peningkatan kinerja sesuai dengan perkembangan zaman. Pelatihan yang diselenggarakan hendaknya tidak menekankan aspek kognitif saja, tetapi juga aspek attitude yang tercermin dalam penerapan EQ dan SQ.

Selain itu pelatihan yang baik hendaknya memperhatikan kontinuitas dari pelatihan tersebut, sesuai dengan filosofi long life education yang berpijak pada pendidikan orang dewasa, sehingga manfaat dari pelatihan tersebut tidak hanya dirasakan dalam beberapa waktu saja kemudian hilang seketika, tetapi tetap tertanam dalam budaya organisasi. Jangan sampai tagline salah satu iklan “ sudah lupa tuh..” menghiasai karyawan-karyawan yang rajin ikut pelatihan.

Daftar Pustaka

Miarso, Yusufhadi.Menyemai Benih Teknologi Pendidikan.

Kussriyanto, Bambang. Seri Manajemen No.95: Meningkatkan produktivitas karyawan. LPPM bekerjasma dengan PT Pustaka Binaman Pressindo.

For Refresh